Program Studi Teknik Industri, Universitas Universal
 
SOCIETY 5.0 LAHIR SEBAGAI SOLUSI INDUSTRY 4.0

Akhir-akhir ini publik dihebohkan dengan munculnya sebuah konsep baru yang disebut Society 5.0. Dari berbagai sosial media, banyak sekali beredar informasi bahwa Kantor Perdana Menteri Jepang secara resmi meluncurkan “Society 5.0” atau “Super Smart Society”. Konsep ini diklaim merupakan pengembangan dari revolusi industri 4.0 yang dinilai berpotensi mendegradasi peran manusia. Hal ini didasarkan karena Society 5.0 dirancang sebagai konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based).  Jepang mengusulkan Society 5.0 agar manusia berperan lebih besar dengan mentransformasi Big Data untuk menjadi suatu kearifan baru yang pada akhirnya meningkatkan kemampuan manusia dalam membuka peluang -peluang bagi kemanusian demi tercapainya kehidupan bermakna.

Sebelum mengupas lebih jauh isu ini, ada baiknya kita mengetahui sejarah perkembangan konsep ini dan bagaimana Society 5.0 lahir dengan landasan Industry 4.0. Penjelasan sistematika konsep, serta peluangnya di Indonesia akan dibahas setelahnya.

Pengaruh Industrial Revolution Terhadap Society


Society 1.0 didefinisikan sebagai sekelompok orang yang berburu dan berkumpul dalam hidup berdampingan secara harmonis dengan alam. Tidak lama setelah Society 1.0, selanjutnya Society 2.0 muncul di mana sekelompok orang yang bersosial dengan keterampilan budidaya pertanian, peningkatan organisasi, dan pembangunan jiwa kebangsaan. Mulainya Revolusi Industri ke-1 pada Abad ke-18 yang diawali dengan mekanisasi terhadap industri tekstil, pengembangan teknik pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara merubah peradaban ciri khas Society 2.0 dan memicu Society 3.0. Society 3.0 melalui Revolusi Industri menjadikan masyarakat mempromosikan industrialisasi sehingga terjadi urbanisasi besar-besaran dari desa yang merupakan basis pertanian menuju kota-kota pusat industri. Setelah berjalan satu abad, sekitar tahun 1860, Revolusi Industri memasuki tahap ke-2 di mana kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan kapal tenaga-uap, rel, dan kemudian di akhir abad ke-19 terjadi perkembangan mesin pembakaran dalam dan pembangkit tenaga listrik. Revolusi Industri ke-3 ditandai dengan berkembangnya teknologi elektronik dan ditemukannya komputer. Di era ini, komputer personal, dan teknologi informasi mempermudah dan mempercepat kinerja industri. Revolusi industri ke-3 ini kemudian melahirkan Society 4.0 di mana kegiatan bermasyarakat mulai menggunakan teknologi informasi sebagai nilai tambah untuk menghubungkan aset tidak berwujud dan menggabungkannya untuk membentuk jaringan informasi.

Dengan ditemukannya komputer yang diikuti dengan teknologi internet, Revolusi industri ke-3 dapat dikatakan sebagai fondasi dari Revolusi Industri ke-4.  Sehingga di era Revolusi Industri ke-4 terjadi fusi berbagai kemajuan teknologi yang memiliki inovasi yang bergerak cepat dan semua serba terkoneksi. Ini eranya IoT (internet of things), bahkan internet of everything yang ditandai dengan adanya kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence), self-driving car, big data, 3D printing, augmented reality, autonomous robot dan teknologi pintar lainnya. Karena efeknya yang mendalam terhadap dunia industri khususnya penerapan komputer digital pada lini produksi, maka pada tahun 2014 Jerman memperkenalkan konsep Industry 4.0. Asal mula Industry 4.0 terletak pada strategi teknologi tinggi Pemerintah Jerman yang memiliki salah satu prioritas di bidang ekonomi digital dan masyarakat. Bidang ini menjadikan digitalisasi Industri Jerman sebagai topik yang sangat penting dan menonjol dan akhirnya menghasilkan istilah Industry 4.0.

Pada Industry 4.0, tidak hanya mesin tetapi hampir semua benda dilengkapi dengan sensor yang menghasilkan informasi tentang status atau lokasi mereka. Ini berarti bahwa ada lebih banyak informasi yang tersedia daripada sebelumnya. Karena antarmuka (interface) belum didefinisikan dengan jelas, maka jumlah informasi bertambah dan menjadi tidak mungkin untuk diproses oleh manusia. Di sinilah kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) masuk. Karena daya komputasi dua kali lipat dalam waktu kurang dari setiap dua tahun, maka kekuatan AI meningkat dengan sangat cepat. Ini membuka kemungkinan baru, tetapi juga bahaya baru. Salah satu bahaya baru dengan perkembangan pesat AI adalah peran-peran manusia menjadi terdegradasi atau mungkin saja tergantikan. Hal ini yang melatar belakangi pemerintah Jepang dengan segera menginisiasi lahirnya Society 5.0 yang diperkenalkan di Kantor Perdana Menteri Jepang pada hari Senin, 21 Januari 2019.

Konsep Society 5.0 Yang Diperkenalkan Negara Jepang


Konsep Society 5.0 sebenarnya sudah mulai diusulkan Jepang pada tahun 2015 dalam Rencana Dasar Sains dan Teknologi ke-5 sebagai masyarakat masa depan yang dicita-citakan oleh pemerintah Jepang. Pada usulan tersebut, dibandingkan dengan Industry 4.0 yang lebih berfokus pada proses produksi, Society 5.0 lebih menekankan untuk berusaha menempatkan manusia pada pusat inovasi (human centered) dengan pendalaman integrasi teknologi dalam meningkatkan kualitas hidup, tanggung jawab sosial dan keberlanjutan.

Alasan pemerintah Jepang untuk segera menginisiasi lahirnya Society 5.0 di era Industry 4.0 bukan tanpa sebab atau sekedar menjadi leader untuk mendahului negara lain di dunia. Mereka saat ini sedang menghadapi masalah dengan tingginya generasi tua yang mana pengeluaran untuk biaya pengobatan serta pelayanan menjadi semakin meningkat. Selain itu, kemajuan Jepang membuat minimnya ketersediaan tenaga buruh ahli dan tingginya biaya perawatan infrastruktur. Sehingga Society 5.0 diharapkan menjadi solusi masalah kesehatan dan penduduk dengan menggunakan data medical records untuk membantu mempercepat penanganan kesehatan, membuat sistem remote untuk pelayanan kesehatan, dan menggunakan AI dan robot sebagai perawat. Sensor, AI, dan robot juga nantinya akan digunakan untuk membantu pemeliharaan jalan, terowongan, jembatan dan infrastruktur lainnya.
Selain mengatasi masalah tadi, Jepang juga mengklaim bahwa Society 5.0 nantinya akan menjadi peradaban baru manusia dalam bersosial menjadi masyarakat yang cerdas (smart society). Konsep sistematikanya adalah sebagai berikut. Sebagai langkah awal, dalam membangun Society 5.0 diperlukan Big Data yang dikumpulkan oleh para pengguna IoT. Kumpulan informasi baru yang besar ini akan dikonversi menjadi suatu tipe intelijen baru atau yang dikenal sebagai Artificial Intelligent (AI). AI inilah yang menjadi landasan kunci Society 5.0 dan akan menyentuh setiap sudut masyarakat. Ini berarti, pada dasarnya, warga negara Jepang akan diberikan hanya produk dan layanan yang mereka butuhkan, dalam jumlah yang tepat dan pada waktu tertentu yang diperlukan. Yang lebih konstruktif mungkin adalah upaya Jepang untuk secara praktis meningkatkan ambang batas standar hidup yang nyaman dan berkelanjutan dengan adaptasi teknologi yang lebih tinggi. Sebuah konsep yang brilian.

Peluang Society 5.0 di Indonesia


Berkaca dari konsep Society 5.0, maka sebenarnya kondisi Indonesia pun sangat membutuhkan penerapan konsep ini sehingga perlu penyusunan blueprint pengembangan menuju Society 5.0, seperti halnya negara Jepang. Tidak masalah bagi Indonesia langsung berpijak pada dua kaki, Industry 4.0 dan Society 5.0. Justru kedua momentum ini harus digabungkan pada perencanaan nasional sehingga nantinya akan terjadi transformasi yang matang dengan mitigasi faktor resiko yang dapat ditimbulkan. Meskipun urgensi yang dihadapi oleh Jepang dan Indonesia agak berbeda, khususnya terkait demografi penduduk, namun masalah kesehatan dan infrastruktur yang dihadapi kurang lebih sama.

Pada isu kesehatan, Society 5.0 dapat menyelesaikan masalah jumlah harapan hidup masyarakat. Solusi yang ditempuh dengan Society 5.0 adalah seluruh data kesehatan masyarakat di simpan dalam satu pusat data besar untuk dianalisis oleh kecerdasan buatan atau AI, kemudian ditindaklanjuti melalui program preventif kesehatan. Selanjutnya pada isu infrastruktur, tingginya dan cepatnya kerusakan infrastruktur publik yang dapat berpotensi memperlambat kegiatan ekonomi masyarakat.  Solusi yang ditempuh dengan Society 5.0 adalah memanfaatkan Sensor dan robot untuk menginspeksi sarana infrastruktur dan sanitasi yang rusak. Dan menggunakan AI untuk mengidentifikasi, mana infrastruktur dasar yang prioritas diperbaiki dengan merujuk pada aktivitas ekonomi masyarakat pengguna sarana prasarana.
Isu tambahan yang tentunya dapat juga diatasi dengan Society 5.0 adalah terkait informasi dan logistik. Saat ini, masyarakat kita hanya berbagi pengetahuan dan informasi antar lintas bagian di mana sumber informasi belum diwujudkan dalam bentuk tindakan yang solutif. Pada Society 5.0, dengan menggunakan teknologi AI, data nantinya dikumpulkan dan difilter untuk mencegah pemanfaatan sebagai ruang yang buruk dalam menyampaikan informasi tidak bermutu seperti hoax atau misinformasi. Sedangkan untuk isu distribusi barang yang lambat akibat sistem transportasi yang padat dan belum disertai dengan infrastruktur jalan yang ideal. Solusi yang ditempuh dengan Society 5.0 adalah dengan menerapkan sistem transportasi barang secara kolektif dan memanfaatkan teknologi Quad Copter/Drone sebagai alternatif sarana distribusi barang.

Kesimpulan dan Pembahasan


Sangat jelas bahwa setiap Revolusi Industri melahirkan Society baru di setiap eranya. Revolusi Industri yang dimulai pada akhir abad ke-18 di Inggris melahirkan Society 3.0, suatu peradaban baru setelah populernya era pertanian dan pertambangan. Era yang disebut-sebut sebagai milestone perpindahan dari middle age ke era modern. Selanjutnya pada Revolusi Industri ke-2 dan ke-3 atau era penemuan komputer pasca Perang Dunia ke-2, komputer yang saat itu disebut sebagai teknologi antara sebelum penemuan teknologi berikutnya, ternyata berkembang demikian pesat dan memicu munculnya cara bermasyarakat yang baru melalui teknologi daring (Society 4.0). Dan saat ini, di era Revolusi Industri ke-4 atau Industry 4.0, teknologi komputer berkembang menjadi IoT (internet of things) dan AI (artificial intelligence) dengan mengubah fasilitas industri sebagai smart factory (pabrik cerdas). Konsep ini diklaim memiliki potensi inovasi sosial karena bisnis yang berhasil di Industry 4.0 akan menjadi bisnis yang menawarkan kemajuan sosial dan manfaat ekonomi. Konteks ini melahirkan usulan dari pemerintah Jepang untuk segera membentuk Society 5.0 dalam menciptakan nilai-nilai baru dengan kolaborasi antar beberapa sistem yang berbeda, dan merencanakan standarisasi format data, model, arsitektur sistem, dll. Diharapkan bahwa peningkatan properti intelektual, standarisasi internasional, teknologi konstruksi sistem IoT, teknologi analisis Big Data, teknologi AI dan sebagainya mendorong daya saing Jepang untuk menjadi super smart society (masyarakat super pintar).

Sementara itu pemerintah Indonesia baru memulai perencanaan implementasi Industry 4.0 di tahun 2017. Penerapan Industry 4.0 diyakini akan mampu untuk meningkatkan posisi daya saing dari urutan ke-41 menjadi urutan ke-39 dunia dari 138 negara yang tercatat pada Global Competitiveness Report tahun 2016-2017. Untuk itu, Kemenperin saat ini tengah mengidentifikasi kesiapan seluruh sektor industri di Indonesia untuk mengimplementasikan sistem Industry 4.0 dalam aktivitas industrinya. Namun dengan lahirnya konsep Society 5.0 yang mulai dijalankan Jepang, seyogyanya menjadi pertimbangan pemerintah untuk merevisi strategi atau roadmap pengembangan perekonomian Indonesia. Hal ini karena kemungkinan dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi dinamika pasar kerja dan peran manusia dengan perluasan isu Society 5.0 ini ke seluruh dunia. Apalagi Indonesia akan mengalami apa yang disebut sebagai Bonus Demografi pada tahun 2020-2045. Mengapa disebut bonus? Karena pada saat itu angkatan usia produktif (15-64 tahun) diprediksi mencapai 68% dari total populasi dan angkatan tua (65+) sekitar 9%. Setelah tahun 2045 dan seterusnya akan terjadi penurunan dan memasuki era aging society (generasi tua). Bayangkan ada 52,6 juta pekerjaan di Indonesia berpotensi hilang sementara pekerjaan baru yang akan muncul hanya 3,7 juta, mengutip kajian McKinsey Global Institute. Konsep Society 5.0 yang digagas Jepang mungkin merupakan solusi bagi pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi Industry 4.0 yang berpotensi mendegradasi peran manusia. Sebuah konsep yang berpusat pada manusia dengan menggunakan basis teknologi. Konsep yang menyebabkan manusia tidak kehilangan perannya dalam era digital. Manusia sebagai masyarakat tetap hidup sebagai pusat peradaban.

Dunia akademisi di Indonesia pun, sebagai pencetak SDM, diharapkan untuk segera merevisi rancangan kurikulumnya untuk lebih berpusat ke Society 5.0, bukannya dominan ke Industry 4.0 mengikuti banyak usulan yang muncul belakangan ini. Karena ideologi Industry 4.0 lebih ke teknologinya, bukan pada manusia sebagai pusatnya di mana AI atau IoT yang sebenarnya hanya sebagai perangkat bantuan. Jangan sampai terbalik manusia menjadi korban teknologi yang tumbuh.

Salah satu Perguruan Tinggi di Batam, Universitas Universal, yang menawarkan visi mewujudkan peradaban baru Dunia Satu Keluarga memiliki kurikulum dengan matakuliah-umum yang mungkin baru pertama kali di Indonesia dengan pembahasan intensif tentang Revolusi Teknologi, dan Kebudayaan & Peradaban. Kurikulum yang diharapkan dapat meluluskan mahasiswa yang tidak hanya memiliki pengetahuan teknologi tapi juga terdidik, humanis, dengan nilai-nilai yang berdasarkan kualitas diri sejati seorang manusia. Kurikulum yang tak hanya sesuai dengan konsep Society 5.0, tetapi bahkan mungkin sebelum dan setelahnya, sepanjang manusia itu ada. Harapannya generasi terdidik yang terbentuk nantinya menyebarluaskan pengetahuan untuk kebaikan manusia guna mendapatkan Kehidupan Baru yang lebih baik, dalam suatu Dunia Baru yang harmonis bukan saja antar manusia, tetapi juga harmonis antara manusia dengan Alam.
(Terbit di Surat Kabar Haluan Kepri, 13-2-2019)

—————–


Penulis

Dr. Eng. Ansarullah Lawi
Kaprodi Teknik Industri, Universitas Universal

Read more
Posted on Thursday, February 14, 2019
Hal yang Perlu Dikembangkan Selama Kuliah Selain IPK dan Ijazah

Ada beberapa hal yang bisa Anda andalkan ketika merasa kampus Anda kurang terkenal, IPK Anda rendah, pengalaman kerja kurang atau sampai yang paling extrem Anda tidak lulusan Perguruan Tinggi dan hanya selevel SMA.

1. Koneksi yang kuat akan menunjukkan seberapa baik kemampuan komunikasi Anda

2. Karakter kuat dengan jeli menangkap peluang didukung pantang menyerah utk setiap kesempatan jadi jaminan utk sebuah pekerjaan

3. Latar belakang organisasi dan beda jurusan kuliah akan menjelaskan Anda terbiasa bekerja di bidang berbeda dan juga familiar bekerja sebagai team

4. Bekerja tidak selalu menjadi karyawan, kreatifitas tinggi akan menggiring Anda memasuki dunia bisnis dan enterpreneurship yang lebih menjanjikan. (Source: FB_Fotiba)

Read more
Posted on Sunday, November 25, 2018
Mengapa Faktor Lingkungan Kerja Sangat Penting?

Manusia sebagai makhluk sempurna tetap tidak luput dari kekurangan, dalam arti kata segala kemampuannya masih di pengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut bisa datang dari dirinya sendiri (intern) atau mungkin dari pengaruh luar (ekstern). Salah satu faktor yang berasal dari luar ialah kondisi lingkungan kerja yaitu semua keadaan yang terdapat di sekitar tempat kerja seperti: temperatur, kelembaban udara, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau-bauan, warna dan lain-lain. Adanya lingkungan fisik kerja yang bising, panas bergetar atau atmosfir yang tercemar akan memberikan dampak negatif terhadap performans maupun moral/ motivasi kerja pekerja.

Sirkulasi udara di sekitar kita mengandung sekitar 21% oksigen, 0,03% karbondioksida dan 0,9% gas lainnya (campuran). Oksigen terutama merupakan gas yang di butuhkan oleh makhluk hidup terutama untuk menjaga kelangsungan makhluk hidupnya (untuk proses metabolisme). Udara di sekitar kita di katakan kotor apabila kadar oksigen dalam udara tersebut telah berkurang dan terus bercampur dengan gas-gas atau bau-bauann yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Kotornya udara di sekitar kita dapat di rasakan dengan sesaknya pernafasan kita dan ini tidak boleh di biarkan berlangsung terlalu lama, karena mempengaruhi kesehatan tubuh dan mempecepat proses kelelahan. (IG hmti_uvers)

Read more
Posted on Thursday, November 22, 2018